something old…something new…

hanya ingin ada di sini dan sesekali berarti

Aku ingin menulis, Kamu?

Kesadaran adalah puncak dari perenungan atas  kesalahan yang telah diperbuat, hingga akhirnya menemukan titik  klimaks menuju hikmah di balik sebuah peristiwa. Kesadaran pula yang akhirnya membuat saya berkeinginan untuk menulis. Sadar bahwa menulis mempunyai banyak manfaat, sadar bahwa banyak hal yang bisa dituangkan melalui tinta. Ya, itulah menulis. Cukup dengan menkonversikan pengalaman, khayalan atau pengetahuan menjadi susunan huruf  yang bisa merubah sesuatu, mungkin perubahan kecil pada diri orang yang membaca hingga perubahan besar  berdampak global bagi keberlangsungan hidup manusia. Perubahan kecil atau perubahan besar, keduanya merupakan output yang sangat mulia tentu saja jika masih dalam koridor kebaikan.

            Dakwah berarti menyeru pada kebaikan. Sebagai seorang muslim, dakwah sudah menjadi bagian dari hidup kita, baik da’wah fardhiyah (ke satu orang) atau dakwah dengan mad’u (yang diajak pada kebaikan) yang banyak. Terkadang saya bingung, bagaimana caranya membagikan ilmu-ilmu yang telah saya dapat agar semua orang bisa ikut merasakan manfaatnya. Mungkin sampai saat ini saya belum termasuk orang-orang yang dengan ilmu yang ia miliki, pergi dari satu tempat ke tempat yang lain untuk berdakwah, mengajak pada kebaikan. Akan tetapi, apakah saya harus menunggu sampai ilmu saya segunung baru mau berdakwah? Sedang saya tidak tahu sampai kapan saya bisa membaca dan menulis. Maka, menulis adalah alternatif cara yang dapat digunakan untuk membuat orang lain mengetahui apa yang ingin kita sampaikan. Kita tidak perlu mempunyai kepiawaian besar dalam menulis atau mempunyai bakat menulis. Jujur, menulis dan adalah dua hal yang sangat tidak menarik bagi saya hingga akhirnya saya menemukan bahwa tidak ada alasan untuk tidak menulis. Ingin menulis? Maka membaca pun menjadi keniscayaan. Pada awalnya perlu dipaksa memang, ingat, kebaikan tidak begitu saja muncul apalagi dengan bersantai-santai. Terlalu banyak yang bisa ditulis. Percayalah,

Melalui tulisan seseorang bisa dikenal hingga setelah ia wafat. Bukan agar menjadi tenar melainkan membuat orang lain atau anak cucu kita mengerti isi tulisan kita dan kebaikan –kebaikan pada diri kita yang kemudian bisa mereka contoh. Begitu juga para ulama yang telah wafat, yang pengetahuannya tentang Islam dan seluk beluknya sangatlah tinggi. Apa yang mereka tinggalkan? Tulisan. Tak ubahnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam yang tidak meninggalkan dinar dan dirham tetapi ilmu yang tertuang dalam Al Qur’an dan Al Hadits. Tampaknya sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak memilih menjadi sorang penulis. Apakah setelah menulis tugas kita selasai sampai di sini? TIDAK. Bahwa tulisan berarti bagi mereka yang memiliki kemauan dan kesempatan membaca, masih ada dua hal yang jangan sampai kita lupakan. Ya, mereka adalah hal (perbuatan) dan lisan. Maka dakwah dengan hal, lisan dan tulisan adalah sebuah keniscayaan yang sebaiknya ada pada diri kita. Semoga saya terus istiqamah dalam menulis dan terus meluruskan niat agar semua ini semata-mata karena Allah. AamiinImagen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 14, 2012 by in Life is here and tagged , .
%d bloggers like this: