something old…something new…

hanya ingin ada di sini dan sesekali berarti

Apa (lagi) yang menghalangimu berjilbab, Saudariku sayang…

A-1PEObCIAAtcI-

Saudariku, mari kita baca sepenggal tanya jawab yang diambil dari sebuah cerpen. Kuharap, Engkau berkenan membacanya, jangan lupa luruskan niat, kembalikan semua pada pemilik jiwa,,

***

“Assalamu’alaikum, saya Gita, masih SMA. Mau nanya nih, gimana sih hukumnya jilbab (baca: kerudung)? Kan sunnah ya?” tanyaku sambil sok menjawab sendiri.

Hadirin kasak-kusuk

“Ih, kok tanya itu lagi. Kan udah aku kasih tau itu wajib, “sela Tika setengah berbisik.

Aku tak peduli. “Ya, setahu saya sih gitu. Ada banyak teman saya masuk pesantren. Di sana mereka pakai jilbab, tapi pas keluar ya mereka lepas-lah, malah ada yang jadi rocker.”

Gerrrrr, hadirin tertawa. Tika menatapku sambil geleng-geleng kepala.

Aku bingung, tapi tetap semangat. “Kayak saya nih. Saya mau pakai jilbab, tapi ya ntar, nunggu udah nikah, udah tua atau pensiun. Lagian yang penting kan kita bisa jilbabin hati, ya ga? Buat apa pake jilbab kalo nggak bisa jilbabin hati. Mendingan nggak dong!”

Hadirin riuh rendah, bertepuk tangan.

Moderator garu-garuk kepala, persis Tika, di sampingku. “Oke, pertanyaan ditampung.”

Saat moderator meminta para pembicara menanggapi, Mbak Nadia tersenyum, “Sahabat sekalian, sebagai seorang muslimah, sedikitnya saya punya 8 alasan mengapa saya memakai jilbab.”

Aku menatap Mbak Nadia yang tampak lebih cantik dengan jilbab ungunya.

“Mengapa saya mengenakan jilbab? Alasan pertama karena berjilbab adalah perintah Allah dalam surat Al Ahzab ayat 59 dan An Nur ayat 31. Kedua, karena jilbab merupakan identitas utama  untuk dikenali sebagai seorang muslimah. Astri Ivo, seorang artis, justru mulai mengenakan jilbab saat kuliah di Jerman. Saya Alhamdulillah mulai mengenakannya saat kuliah di Amerika.”

“Wuuuuiiiiih,” hadirin berdecak kagum.

Alasan ketiga saya mengenakan jilbab karena dengan berjilbab saya merasa lebih aman dari gangguan. Dengan berjilbab, orang akan menyapa saya “Assalamu’alaikum”, atau memanggil saya “Bu Haji” yang juga merupakan do’a. Jadi selain merasa aman, bonusnya adalah mendapatkan do’a. Hal ini akan berbeda bila muslimah mengenakan pakaian yang ‘you can see everything’.

Hadirin tertawa. Hmmm.

“Alasan keempat, dengan berjilbab, seorang muslimah akan merasa lebih merdeka dalam artian yang sebenarnya. Perempuan yang memakai rok mini di dalam angkot misalnya, akan resah menutupi bagian-bagian tertentu tubuhnya dengan tas tangan. Nah, kalau saya naik angkot dengan berbusana muslimah saya bisa duduk seenak saya. Ayo, lebih merdeka yang mana?”

Hadirin tertawa lagi.

“Alasan kelima, dengan berjilbab, seorang muslimah tidak dinilai dari ukuran fisiknya. Kita tidak akan dilihat dari kurus, gemuknya kita. Tidak dilihat bagaimana hidung atau betis kita… melainkan dari kecerdasan, karya dan kebaikan hati kita.”

Aku menunduk. Benar juga.

“Keenam, dengan berjilbab, kontrol ada di tangan perempuan, bukan lelaki. Perempuan itu yang berhak menentukan pria mana yang berhak dan tidak berhak melihatnya.”

Hadirin manggut-manggut. Yes!

“Ketujuh. Dengan berjilbab, pada dasarnya wanita telah melakukan seleksi terhadap calon suaminya. Orang yang tidak memiliki dasar agama yang kuat, akan enggan untuk melamar gadis berjilbab, bukan?”

Aku menunduk lebih dalam.

“Terakhir, berjilbab tak pernah menghalangi muslimah untuk maju dalam kebaikan, ujar Mbak Nadia. ”O ya, berjilbab memang bukanlah satu-satunya indikator ketakwaan, namun berjilbab merupakan realisasi amal dari keimanan seorang muslimah. Jadi lakukanlah semampunya. Tak perlu ada pernyataan-pernyataan negatif seperti, “Kalau aku hati dulu yang dijilbabin”. Hati kan urusan Allah, tugas kita beramal saja dengan ikhlas.”

“Setujuuuu,” koor hadirin.

***

Saudariku, apa pendapatmu setelah membaca sepenggal kisah di atas? Adakah Kau ikut mengatakan setuju? Atau masih ada keraguan pada hatimu? Tidakkah firman Allah amatlah cukup menjadi alasan untuk menunaikan perintahNya? Atau Kau masih membutuhkan alasan-alasan logis untuk memenuhi akalmu? Jika dirimu mengaku wanita penjunjung logika dan harkat wanita, kiranya alasan-alasan di atas telah sangat cukup menjadi penawar akal yang ingin dipenuhi. Sekarang tinggal hatimu, akankah ia terbuka dan kau amini dengan amalmu, atau memang sebenarnya telah terbuka akan tetapi nafsumu ingin mengekangnya dan amalmu mengingkarinya dengan sejuta alasan yang kau cari dan terus kau cari? Jika masih beralasan ingin melakukannya tapi nanti, sungguh, apakah kau yakin esok hari Kau masih hidup? Tidakkah Engkau takut jika nyawa tercabut dalam keadaan kita belum menutup aurat? Jika masih beralasan karir, sungguh, siapakah yang memberi rizki? Allah? Atau perusahaan dan karir yang menghambat kita berkerudung? Jika takut si dia meninggalkan kita, sungguh, siapakah pemberi jodoh hidup kita? Siapa yang paling tau mana yang terbaik untuk kita? Baiklah, tugas kami sampai di sini, kami telah menyampaikan, hidayah adalah urusan Allah, apakah Engkau mau menunggu saja hingga maut menjadi penghujungnya atau berlari mengejarnya, mengejar hidayah Allah. Karena sungguh, hidayah ada dua wahai Saudariku, hidayah yang Alloh berikan pada seseorang tanpa ia bersusah payah mencarinya dan kedua adalah hidayah yang tidak diberikan kecuali ianya berpayah-payah mencari dan menjemputnya. Pilihan ada di tanganmu, menunggu atau menjemput. Semoga Allah membersihkan hati kita hingga cahaya kebenaran mudah memasukinya Amin. Satu hal yang ingin kusampaikan. Aku mencintaimu karena Allah. Wallahu a’lam.

AYAT-AYAT TENTANG PERINTAH BERKERUDUNG

Al Ahzab ayat 59

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin,”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Jilbab= sejenis baju kurung yang lapang yang menutupio seluruh aurat wanita. Di lingkungan kita biasa disebut gamis.

dan An Nur ayat 31

Katakanlah kepada wanita yang beriman, ”Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali suami mereka, atau ayah mereka…”

dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 14, 2012 by in tentang perempuan and tagged , , , .
%d bloggers like this: